Masalah HAM di Papua belum tuntas, hanya ada rapat koordinasi

Filep Karma dan Matius Murib saat diskusi pelanggaran HAM di Jakarta belum lama ini-Jubi/ist

Jayapura, Jubi- Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua Matius Murib mengakui, kalau penyelesaian kasus-kasus penyelesaian masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Papua tak ada kemajuan yang berarti justru pihak Jakarta melakukan rapat koordinasi saja.

“Tak ada perkembangan berarti meski sudah ada SK dari Menkopolhukam dari Luhut Panjaitan maupun Wiranto yang terjadi hanya rapat koordinasi,” katanya saat Fokus Group Diskusi di Kantor PAK HAM Papua, Padangbulan, Kamis(6/7/2017).

Diskusi itu bertajuk 19 tahun peristiwa Biak berdarah dan masalah HAM lainnya di Tanah Papua.

Dia mengakui kalau kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua dari 13 kasus yang ada hanya lima kasus yang telah dikategorikan sebagai kasus pelanggaran sedangkan lainnya termasuk kriminal biasa.

“Meskipun demikian kita harus menyadari bahwa penyelesaian pelanggaran HAM harus diselesaikan oleh negara yang diduga melakukan pelanggaran tersebut,”katanya.

Sementara itu Penehas Lokbere salah satu korban pelanggaran HAM mengatakan pembentukan tim penyelesaian kasus HAM harus melibatkan dan mendengar masukan dari korban.

“Saya melihat kasus-kasus pelanggaran HAM harus ada tim independen dan masyarakat sudah tak percaya dengan penyelesaian HAM oleh negara,” katanya seraya mengusulkan sebaiknya semua warga Papua bersatu untuk menyelesaikannya sendiri saja tanpa harus bergantung kepada negara.

Selain itu Filep Karma salah satu tokoh aksi peristiwa Biak berdarah 6 Juli 1998 mengatakan dalam pertemuan di Jenewa tim Indonesia datang dengan rombongan sebanyak 21 orang ditambah Menlu dan Menkumham.

“Mereka bilang tim bentukan Menkopolhukam sedang menangani dan menyelesaikan masalah HAM di Papua,” katanya.

Padahal faktanya kata dia tim bentukan Menkopolhukam hanya melakukan rapat koordinasi tanpa ada perkembangan sebagaimana dikatakan Matius Murib.

“Saya hanya pesan sebaiknya generasi muda Papua harus takut akan Tuhan atau revolusi Iman, karena dengan itu pasti kita tidak melakukan tindakan korupsi maupun perbuatan dosa lainnya,” kata Karma. (*)

Reporter :Simon Daisio
simon@tabloidjubi.com
Editor : Dominggus Mampioper
Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*